Palembang, CNN Indonesia —
Berbulan-bulan asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membekap sejumlah daerah di Sumatra dan Kalimantan, termasuk Palembang yang merupakan ibu kota provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Bukan hanya kualitas udara buruk yang berpengaruh pada menurunnya kualitas kesehatan, perekonomian warga pun menjadi anjlok turun. Salah satunya Yana (51), seorang pedagang pempek yang sudah belasan tahun berjualan di kantin kampus UIN Raden Fatah Palembang.
Dapurnya memang masih mengepul sehari-hari, namun hati pemiliknya sudah lama tidak mengepul.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak kabut asap karhutla intens membekap udara Palembang selama beberapa waktu terakhir, dia bilang pengap yang mengepul bukan lagi dari dandang di atas kompor, melainkan hatinya.
Omsetnya anjlok drastis. Jika biasanya dalam sehari ia bisa meraup setidaknya Rp1 juta, kini untuk menutup modal pun tak cukup.
Penyebabnya adalah sepi. Kantin yang biasanya riuh oleh tawa dan diskusi mahasiswa kini sunyi senyap.
“Mahasiswa belajar daring sudah hampir satu bulan,” kata Yana lirih saat ditemui CNNIndonesia.com, Sabtu (24/10) pagi.
Akibat kabut asap, pihak kampus memberlakukan kuliah daring. Hampir satu bulan sudah kampus sepi tanpa mahasiswa. Hal tersebut artinya omset menipis karena tak ada mahasiswa yang datang membeli.
Bagi Yana, 15 tahun berjualan bukan waktu sebentar. Kantin ini adalah hidupnya. Dan kini hidupnya ikut meredup bersama asap.
Ia hanya berharap satu hal, pihak kampus tidak lagi memberlakukan kuliah online, dan asap segera hilang dari langit Palembang.
|
Yana, pedagang pempek di kantin UIN Raden Fatah Palembang yang mata pencahariannya terganggu kabut asap karhutla selama beberapa waktu terakhir. (CNN Indonesia/Hanif Khairandi)
|
Langkah pemerintah pusat
Sementara itu di Jakarta, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaiki metode penghitungan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan citra satelit untuk meningkatkan akurasi pemantauan. Langkah tersebut dilaporkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto seiring penanganan karhutla di lima provinsi prioritas.
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi menyampaikan laporan itu dalam Sidang Kabinet Paripurna Dua Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10).
“Izin Bapak Presiden melaporkan bahwa sejak kami dilantik per tanggal 15 Oktober 2026, kami terus mengambil langkah memperbaiki metode penghitungan dengan menggunakan citra satelit,” kata Kristomei Sidang Kabinet Paripurna Kabinet Merah Putih, dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Kabinet RI, Jumat (23/10).
BNPB menetapkan lima provinsi sebagai prioritas penanganan karhutla, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat.
Dari lima wilayah tersebut, peningkatan kejadian karhutla tercatat di Sumatera Selatan dan Jambi. Namun, Kristomei menyebut kenaikannya belum terlalu signifikan.
“Sehingga ada lima provinsi prioritas hari ini, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Dan untuk yang mengalami penaikan itu adalah di Provinsi Sumatera Selatan dan Jambi hari ini, tapi tidak terlalu signifikan,” ujarnya.
Selain memperbaiki pemantauan, BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca dengan penyemaian es kering (dry ice) untuk membantu memicu hujan di wilayah yang membutuhkan penanganan karhutla.
Kristomei melaporkan sebanyak 3.100 kilogram es kering telah disemai sejak 20 Oktober melalui lima sorti penerbangan. Sementara itu, di Sumatera Selatan, penyemaian dilakukan dalam satu sorti penerbangan dengan menggunakan 800 kilogram es kering.
Menurut Kristomei, upaya tersebut diikuti penurunan kadar partikulat di udara serta peningkatan jarak pandang di Palembang.
“Sehingga ada penurunan PM (particulate matter/kadar polusi udara), PM 2, 2,5 turun, kemudian jarak pandang atau visibility di Palembang saya bisa dari 700 meter menjadi 7.000 meter,” kata Kristomei.
Dengan perbaikan metode penghitungan berbasis citra satelit dan operasi modifikasi cuaca, BNPB terus melakukan pemantauan serta penanganan karhutla di wilayah prioritas.
(hnf/lau/kid)

