Jakarta, CNN Indonesia —
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu di bawah tekanan domestik usai Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai.
Financial Times melaporkan pihak oposisi maupun sekutu Netanyahu kecewa dan frustrasi dengan sang PM karena AS dan Iran malah mencapai mufakat. Padahal, tujuan perang Israel belum ada yang tercapai satu pun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat membujuk AS untuk ikut menyerang Iran, Israel muluk-muluk berkata bahwa serangan bersama Tel Aviv-Washington bisa menggulingkan rezim Teheran. Faktanya, kepemimpinan Iran malah diteruskan oleh putra Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Hosseini Khamenei, usai yang bersangkutan tewas diserang.
Program rudal balistik Iran juga tidak tersentuh sedikit pun. Israel ingin menghancurkan seluruh rudal balistik Iran karena dianggap ancaman. Kenyataannya, kesepakatan AS-Iran tidak menyinggung tentang rudal-rudal Teheran.
Proksi Iran di Timur Tengah juga aman dari gangguan. Milisi-milisi bekingan Iran tidak dipersoalkan dalam kesepakatan. Hanya program nuklir Iran yang menjadi masalah utama AS.
Kesepakatan AS-Iran sendiri sudah tercapai sejak Minggu (14/6). Netanyahu baru buka suara pada Senin (15/6) dan mencoba meyakinkan masyarakat bahwa serangan Israel ke Iran sukses melindungi negara itu dari ancaman.
Netanyahu juga terlihat berusaha menghindari mengkritik keputusan Trump bersepakat dengan Iran.
“Dia presiden Amerika Serikat. Saya perdana menteri Israel. Seringkali kami memiliki pandangan yang sama, tetapi ada juga saat-saat di mana kami memiliki pandangan berbeda. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel dan menjunjung tinggi hal tersebut,” kata Netanyahu.
Dalam pernyataannya, Netanyahu juga tampak mencoba menjauhkan diri dari keputusan Trump. Ia tak mau dilibatkan dengan kesepakatan AS-Iran.
“Kesepakatan ini dilakukan oleh presiden Amerika Serikat … itu keputusannya dan dia yang memimpinnya. Saya menyampaikan pendapat saya dalam percakapan kami,” ujar Netanyahu.
Kritikus Israel, Nahum Barnea, telah menyuarakan kritiknya atas ketidakcakapan Netanyahu dalam mencapai tujuan perang.
Dalam tulisannya di harian Yedioth Ahronoth, Barnea mempertanyakan kemampuan Netanyahu memengaruhi Trump sebelum kesepakatan diteken serta nasib kebebasan operasi Israel setelah kesepakatan dibuat.
“Dia adalah pelayan yang pura-pura memberontak. Pemberontakan ini tidak akan berhasil,” tulisnya.
Yair Lapid, pemimpin oposisi Israel, juga mengkritik Netanyahu yang bak membual.
“[Netanyahu] terus mengatakan kepada semua orang: ‘Kita sudah mengubah Timur Tengah.’ Masalahnya adalah, karena kelalaian, kesombongan, ketiadaan tim profesional yang memadai, dan penilaian yang dipengaruhi oleh hal-hal lain, ia justru mengubahnya menjadi lebih buruk,” kata Lapid di media sosial X.
Pada Rabu (17/6), AS dan Iran akhirnya meneken nota kesepahaman. Penandatanganan dilakukan oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara jarak jauh.
Isi MoU juga diungkap, yang mencakup 14 poin. Sejumlah pihak menilai MoU ini kemenangan bagi Iran karena sebagian besar kesepakatan lebih menguntungkan Teheran.
Menurut seorang pejabat Israel yang bicara kepada CNN, Netanyahu diam-diam mencoba mengubah kesepakatan AS-Iran yang masih akan dirundingkan dalam waktu 60 hari. MoU ini memang akan dibahas lebih detail dan teknis sebelum perjanjian final dibuat.
Upaya Netanyahu itu disebut dilakukan dengan menggunakan media sayap kanan serta senator AS yang akrab dengannya. Tujuannya, untuk menekan Trump supaya memihak kembali ke Israel.
Kantor Netanyahu sejauh ini tidak berkomentar tentang hal ini.
(isa/bac)
Add
as a preferred
source on Google

