Tuesday, May 12, 2026
Google search engine
HomeEkonomi BisnisBCA (BBCA) Jaga Likuiditas dan Eksposur Valas di Tengah Gejolak Pasar Keuangan

BCA (BBCA) Jaga Likuiditas dan Eksposur Valas di Tengah Gejolak Pasar Keuangan



Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) atau BCA menegaskan tetap menjaga pengelolaan likuiditas dan risiko secara pruden di tengah dinamika pasar keuangan, termasuk pelemahan rupiah dan volatilitas pasar surat berharga negara (SBN).

BCA menyampaikan fungsi utama perbankan tetap sebagai lembaga intermediasi atau penyalur kredit. Per Maret 2026, kredit BCA tercatat tumbuh sehat mencapai Rp994 triliun.

“Cadangan likuiditas sementara ditempatkan pada instrumen SBN dan pasar uang yang memiliki tingkat likuiditas yang baik,” ujar EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn kepada Bisnis, dikutip Sabtu (9/5/2026).

BCA menilai pengelolaan portofolio surat berharga tidak hanya mempertimbangkan pergerakan yield, tetapi juga durasi portofolio untuk menjaga kualitas likuiditas secara keseluruhan.

Menurut perseroan, strategi tersebut dilakukan untuk menjaga fleksibilitas pengelolaan dana di tengah fluktuasi pasar obligasi dan nilai tukar.

Di sisi lain, BCA memastikan risiko mata uang asing tetap terkendali dengan menjaga net open position atau eksposur devisa neto pada level rendah.

“BCA juga terus memastikan neraca terkelola dengan pruden, khususnya pada aspek asset-liability yang seimbang baik pada rupiah maupun eksposur mata uang asing,” sebut Hera.

BACA JUGA:   Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun, Arti dan Keutamaannya

Adapun, rupiah yang terperosok ke atas Rp17.000 per dolar AS mulai menekan pasar surat berharga negara (SBN) dan menguji daya tahan perbankan nasional, dengan bank besar dinilai lebih tahan sementara bank kecil kian rentan terhadap lonjakan yield dan biaya dana.

Data terbaru menunjukkan rupiah sempat menyentuh Rp17.445 per dolar AS dan bergerak di kisaran Rp17.300–Rp17.400 sepanjang pekan ini, mencerminkan tekanan yang masih kuat di pasar keuangan domestik.

Pelemahan tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya volatilitas di pasar SBN, yang ditandai kenaikan yield dan penurunan harga di pasar sekunder.

Pergerakan ini tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga arus modal global, arah suku bunga internasional, serta persepsi risiko investor terhadap aset rupiah. Dalam kondisi tersebut, pasar SBN menjadi salah satu kanal utama transmisi gejolak global ke sektor keuangan domestik.

Di tengah tekanan itu, perhatian mengarah pada perbankan nasional yang memiliki kepemilikan SBN besar. Namun, peran bank tidak seragam, sebagian mampu menyerap gejolak, sementara lainnya lebih sensitif terhadap tekanan pasar.

BACA JUGA:   Update PSN Rempang Eco-City: 41 KK Telah Tempati Rumah Baru Tanjung Banun - BP Batam

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menjelaskan keterkaitan rupiah dan SBN paling jelas terlihat dari perilaku investor asing di pasar obligasi.

“Ketika rupiah melemah, investor asing yang memegang obligasi pemerintah otomatis mengalami penurunan return dalam dolar. Yield SBN 10 tahun memang masih tinggi di kisaran 6,7%, tetapi kalau rupiah melemah 4% dalam setahun, return riil dalam dolar menjadi jauh lebih kecil dan kalah menarik dibanding US Treasury yang risikonya lebih rendah,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (7/5/2026).

Kondisi tersebut mendorong investor asing keluar dari pasar SBN dan mengonversi dana ke dolar AS, yang pada akhirnya kembali menekan nilai tukar rupiah.

Dengan demikian, pelemahan rupiah dan arus keluar dari SBN membentuk siklus yang saling memperkuat. Dia menambahkan, tekanan saat ini datang dari kombinasi faktor global dan domestik.

Dari sisi eksternal, tingginya harga minyak memperburuk kebutuhan impor energi Indonesia dan menekan transaksi berjalan.

BACA JUGA:   Rizky Ridho: Insyaallah Indonesia Juara Piala AFF dengan Pelatih Baru

Dari sisi finansial, ketidakpastian arah suku bunga global mendorong investor beralih ke aset safe haven. Dalam situasi tersebut, perbankan nasional mengambil peran sebagai penyangga pasar SBN, terutama ketika investor asing menarik dananya.

“Di tengah kondisi itu, perbankan nasional sekarang berperan sebagai penyangga utama pasar SBN. Sejak SRBI diperluas dan pemerintah mulai menempatkan dana di perbankan untuk menyerap obligasi, bank-bank domestik secara tidak langsung didorong menjadi anchor investor,” kata Yusuf.

Secara kapasitas, likuiditas perbankan masih relatif longgar dan pertumbuhan kredit belum terlalu agresif. Hal ini membuat sebagian dana yang belum terserap ke kredit dialihkan ke SBN dan instrumen moneter.

Namun, peningkatan peran tersebut juga membawa konsekuensi.

Semakin besar alokasi dana ke SBN, semakin besar pula potensi crowding out terhadap kredit sektor riil dalam jangka menengah. Risiko ini belum terasa saat ini karena permintaan kredit masih lemah, tetapi dapat muncul ketika ekonomi mulai pulih.



Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER