Saturday, September 12, 2026
Google search engine
HomeEkonomi BisnisJalur Pipa Arab Saudi Diserang, Harga Minyak Dunia Berisiko Makin Mendidih

Jalur Pipa Arab Saudi Diserang, Harga Minyak Dunia Berisiko Makin Mendidih



Bisnis.com, JAKARTA — Pasokan minyak dunia kembali menghadapi risiko gangguan setelah Arab Saudi menghentikan operasi jalur pipa East—West yang menjadi jalur alternatif ekspor minyak mentah untuk menghindari Selat Hormuz.

Penghentian operasi dilakukan setelah jalur pipa tersebut diserang sejumlah drone pada Kamis (10/9/2026) di wilayah Riyadh dan Madinah. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah orang terluka dan menimbulkan kerusakan pada fasilitas.

Melansir Financial Times dari Saudi Press Agency (SPA), Sabtu (12/9/2026), Kementerian Energi Arab Saudi menyatakan penghentian operasi dilakukan sebagai langkah pencegahan. Namun, sumber kementerian tersebut mengatakan pihaknya belum memberikan kepastian mengenai berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan operasional jalur pipa tersebut. 

Langkah tersebut berpotensi semakin menekan pasar minyak yang telah mengalami kenaikan tajam akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global ditutup pada US$104,56 per barel pada Jumat (11/9/2026), setelah melonjak lebih dari 8% sepanjang pekan.

BACA JUGA:   Segini Beban Utang Proyek KCIC yang Disebut Bom Waktu oleh Bos KAI

Arab Saudi selama beberapa dekade menjadi salah satu eksportir minyak mentah terbesar dunia. Adapun, jalur pipa East—West sepanjang 1.200 kilometer menghubungkan ladang-ladang minyak utama Arab Saudi di wilayah timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

Jalur tersebut memungkinkan Arab Saudi tetap mengekspor jutaan barel minyak mentah per hari meskipun Iran memberlakukan pembatasan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

“Tim darurat dan teknis khusus segera merespons setelah serangan terjadi, dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengamankan jalur pipa dan menilai keamanannya,” kata Kementerian Energi Arab Saudi.

Di sisi lain, gangguan terhadap pipa East—West menjadi perhatian karena Arab Saudi sebelumnya meningkatkan pemanfaatan jalur tersebut setelah konflik dengan Iran dimulai.

Berdasarkan estimasi International Energy Agency (IEA), peningkatan volume minyak yang dialirkan melalui pipa East—West membantu ekspor minyak Arab Saudi kembali mencapai hampir 8 juta barel per hari pada Juni.

BACA JUGA:   Aksi Panggung Sabrina Carpenter di Grammy 2026 Tuai Kecaman

Namun, pemanfaatan jalur tersebut dalam beberapa pekan terakhir juga telah menghadapi tekanan setelah kelompok Houthi mulai menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.

IEA mencatat ekspor dari Yanbu hanya mencapai 2,5 juta barel per hari pada Agustus. Angka tersebut menjadi level terendah sejak 2013.

Di sisi lain, lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mulai meningkat, meskipun volumenya masih jauh di bawah level sebelum perang. Sebelum konflik, sekitar 20 juta barel minyak dan bahan bakar per hari melintasi jalur strategis tersebut.

Saudi Tahan Serangan Balasan

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, Arab Saudi menyatakan tidak akan melakukan serangan balasan terhadap pihak yang menyerang pipa East—West untuk saat ini.

BACA JUGA:   Berita Politik Sepekan: Jokowi Bukan Kader PDIP Lagi hingga Miftah Mundur sebagai Utusan Khusus Presiden

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan jalur pipa tersebut menjadi sasaran sejumlah drone yang diluncurkan dari Irak. Serangan terjadi di wilayah Riyadh dan Madinah serta menyebabkan sejumlah orang terluka dan kerusakan yang saat ini sedang ditangani.

Dalam pernyataannya, kementerian mengatakan keputusan untuk tidak melakukan serangan balasan diambil setelah Perdana Menteri Irak meminta Riyadh memberikan kesempatan kepada pemerintah Irak untuk mengambil langkah yang diperlukan guna mencegah serangan dari wilayah Irak terhadap Arab Saudi dan negara-negara tetangga.

“Kerajaan menjelaskan bahwa, menyusul permintaan dari Perdana Menteri Irak untuk memberikan kesempatan kepada pemerintah Irak yang bersaudara guna mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencegah serangan yang dilancarkan dari wilayah Irak terhadap Arab Saudi dan negara-negara tetangga, Kerajaan memilih untuk tidak merespons pada tahap ini dan mendukung upaya pemerintah Irak,” tulisnya.



Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER