Bisnis.com, JAKARTA – ParagonCorp dan Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi penelitian melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang riset, pengembangan, dan pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku industri kosmetik.
Kolaborasi akan dilakukan untuk memahami karakteristik serta potensinya sebagai sumber bahan baku kosmetik.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan biodiversitas yang tinggi. Namun, sebagian dari kekayaan tersebut hadir dalam bentuk yang tidak mudah dikenali, termasuk mikroalga yang berukuran mikroskopis dan hidup di berbagai lingkungan perairan. Keragaman biologis mikroalga menjadikannya salah satu sumber daya hayati yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut melalui pendekatan ilmiah.
Melalui kolaborasi ini, ParagonCorp dan BRIN akan memulai penelitian dengan mengeksplorasi potensi mikroalga lokal. Pada tahap awal, penelitian akan mencakup pengembangan biomassa mikroalga, ekstraksi senyawa aktif, serta evaluasi potensinya untuk mengidentifikasi kandidat yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku industri kosmetik. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses membangun pemahaman dan data ilmiah mengenai karakteristik serta potensi mikroalga sebelum dikembangkan lebih lanjut.
“Bagi ParagonCorp, biodiversitas Indonesia merupakan sumber potensi yang perlu dipahami melalui riset yang kuat dan berkelanjutan. Ketika kita berbicara tentang inovasi, ada banyak hal yang belum kita ketahui dari kekayaan hayati di sekitar kita. Melalui kolaborasi dengan BRIN, kami ingin memperluas pengetahuan tersebut, termasuk dengan mengeksplorasi mikroalga lokal Indonesia yang masih memiliki ruang luas untuk dipelajari,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E., FINSDV, Deputy CEO & Chief R&D Officer ParagonCorp.
Mikroalga merupakan organisme mikroskopis yang umumnya hidup di lingkungan perairan dan mampu memanfaatkan energi cahaya melalui proses fotosintesis. Bagi peneliti, daya tarik mikroalga tidak hanya terletak pada ukurannya yang kecil, tetapi juga pada keragaman biologis dan senyawa metabolit yang dihasilkannya. Karena itu, pemahaman terhadap mikroalga membutuhkan proses penelitian dan karakterisasi yang dilakukan secara sistematis untuk melihat karakteristik serta potensi pemanfaatannya.
Dari sisi penelitian, BRIN berkontribusi melalui kompetensi dalam bioprospeksi dan pengembangan mikroalga, sementara ParagonCorp membawa pengalaman dalam mengevaluasi bahan baku serta mengaplikasikannya untuk kebutuhan industri kosmetik. Pertemuan kedua perspektif tersebut membuka ruang untuk mengeksplorasi sumber daya hayati lokal secara lebih terarah sekaligus membangun dasar pengetahuan yang dapat mendukung penelitian dan pengembangan berikutnya.
“Mikroalga merupakan bagian dari biodiversitas mikroskopis yang masih memiliki ruang luas untuk dieksplorasi. Kolaborasi dengan industri memberikan kesempatan untuk memperkuat proses penelitian sekaligus melihat potensi pengembangan pengetahuan dari sumber daya hayati lokal. Pada tahap awal ini, fokus kami adalah membangun pemahaman dan data ilmiah yang kuat sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya,” ujar Dr. Ahmad Fathoni, M.Eng., Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN.
Bagi ParagonCorp dan BRIN, eksplorasi mikroalga ini bukan tentang menyimpulkan manfaat atau hasil akhir yang belum ditemukan. Penelitian ini justru berangkat dari pertanyaan: apa yang masih belum kita ketahui dari biodiversitas mikroskopis Indonesia? Dengan pendekatan berbasis sains, proses eksplorasi diharapkan dapat membuka pengetahuan baru mengenai sumber daya hayati Indonesia sekaligus mengidentifikasi kemungkinan pemanfaatannya di masa depan.
Kolaborasi ini juga membuka peluang untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut terhadap senyawa yang dihasilkan mikroalga, termasuk melalui proses isolasi dan karakterisasi pada tahap berikutnya. Setiap tahapan penelitian akan menjadi bagian dari proses untuk memperkuat scientific knowledge sekaligus melihat kemungkinan pengembangan sumber daya hayati lokal menjadi bahan baku bernilai tambah bagi industri kosmetik.
Sejalan dengan semangat “purposeful beauty tech company”, kolaborasi ParagonCorp dan BRIN menempatkan ilmu pengetahuan sebagai fondasi untuk memahami dan membuka potensi Indonesia. Sebab, kekayaan biodiversitas baru dapat memberikan nilai yang lebih luas ketika terus dipelajari, dipahami, dan dikembangkan melalui pengetahuan ilmiah.
Bagi ParagonCorp, pengembangan inovasi berbasis sains merupakan proses yang tidak berhenti pada menghasilkan produk atau teknologi baru. Proses tersebut juga mencakup kemampuan untuk mengajukan pertanyaan ilmiah, membangun pengetahuan, mengeksplorasi berbagai kemungkinan, serta menguji dan mengevaluasi temuan secara sistematis. Karena itu, kolaborasi dengan institusi riset nasional menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif sekaligus memperkuat kapabilitas Research and Development (R&D).
“Bagi ParagonCorp, inovasi berbasis sains dibangun dari kemampuan untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan. Kolaborasi dengan BRIN memberikan ruang bagi tim industri dan peneliti untuk saling bertukar perspektif, memperkaya cara pandang terhadap proses penelitian, sekaligus membangun kapabilitas yang dapat mendukung pengembangan inovasi di masa depan,” ujar dr. Sari Chairunnisa, Sp.D.V.E., FINSDV, Deputy CEO and Chief R&D Officer ParagonCorp.

