Thursday, June 25, 2026
Google search engine
HomeHiburanSeniman ArtJog Mundur Karena Pertimbangan Etis

Seniman ArtJog Mundur Karena Pertimbangan Etis

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Mirat Kolektif, kelompok seni teater dari Surakarta menjadi grup seniman yang mundur di Art Jog 2026. Mereka mundur  setelah mengetahui Yayasan Didit Hediprasetyo mendanai helatan ini. Mereka memutuskan mundur dengan pertimbangan idealisme dan etis setelah berdiskusi matang.

Festival dan bursa seni skala internasional ini mengambil tema “Ars Longa Generatio” melibatkan 96 seniman dengan kurator Farah Wardani, berlangsung pada 19 Juni hingga 30 Agustus 2026.

Dua hari menjelang pembukaan Artjog, Mirat Kolektif seharusnya merampungkan persiapan pertunjukan. Mereka telah berlatih selama berbulan-bulan dan merancang pementasan, namun akhirnya mereka membatalkan diri. “Kami benar-benar baru tahu dua hari sebelum pembukaan,” kata Pendiri sekaligus Direktur Artistik Mirat Kolektif, Luna Kharisma ditemui Tempo di Surakarta, Selasa, 23 Juni 2026.

Dia mengatakan karya yang hendak mereka tampilkan berangkat dari riset sejarah tentang perempuan-perempuan progresif yang selama puluhan tahun tersingkir dari narasi resmi negara. Pertunjukan itu berjudul Sudut Hati Terpercik Api. “Di situ kami mulai goyah karena ini menyangkut posisi etis karya kami,” ujarnya.

Pertunjukan Mirat Kolektif bertolak dari riset tentang karya penulis Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra, S. Rukiah. Penulis ini pada aktif dalam memproduksi gagasan kritis. Pada 1959 tulisannya muncul di Majalah Api Kartini. Selama hampir lima tahun terakhir, Luna bersama Udiarti, Direktur Eksekutif Mirat Kolektif sekaligus penulis naskah pertunjukan, menjalani proses riset yang panjang. Dari sana kemudian membuat naskah pementasan.

BACA JUGA:   Ridwan Kamil Mau Maju di Pilgub Jakarta, The Jakmania: Siap Nggak Dukung Persib Lagi?

Sempat Diskusi Dengan Seniman Lain

Saat kabar mengenai Didit Foundation muncul, Mirat Kolektif tidak langsung mengambil keputusan. Luna dan Udiarti terlebih dahulu menghubungi sepuluh seniman yang terlibat dalam pertunjukan Artjog. Enam seniman kemudian mengikuti diskusi daring untuk saling bertukar pandangan. Tujuannya mendengarkan sikap dan pandangan mereka.

Dari diskusi itu Luna dan Udiarti mendapat gambaran, alasan seniman lain. Ada yang baru pertama kali tampil di festival besar, ada yang mempertimbangkan keberlangsungan kelompoknya. “Kami tidak ingin mengintervensi siapa pun,” ujar Luna.

Melalui diskusi itu, Luna semakin yakin untuk mundur. Menurut Luna, dunia seni terlalu rentan dimanfaatkan oleh kekuatan politik maupun ekonomi yang lebih besar, sementara para pekerja seni sering kali menjadi pihak yang paling terdampak. “Seni sangat rentan dieksploitasi oligarki untuk memperkuat basis kekuasaan mereka,” kata Luna.

Setelah membicarakan dengan seluruh anggota kelompok, Mitra Kolektif memutuskan mengundurkan diri. Menemukan informasi resmi di laman ArtJog, mereka membulatkan tekadnya untuk mundur. Mereka lebih dulu mengirim surat elektronik kepada tim ArtJog sebelum mengumumkan sikap tersebut kepada publik. “Kami merasa ini bukan tempat kami lagi,” ujar Luna.

Keputusan itu menghentikan kerja yang sudah berjalan berbulan-bulan. Hotel telah dipesan, desain panggung sudah diterima, dan sejumlah kebutuhan teknis hampir selesai. Namun Luna mengatakan kelompoknya tidak menyesali proses yang sudah ditempuh.

Mereka mengambil keputusan dari persiapan yang panjang dan menanggung konsekuensi dari sikap mereka. Contohnya, sejumlah biaya untuk persiapan produksi hingga jelang pementasan. Mereka telah memesan hotel di Yogyakarta, menerima desain panggung desain panggung, dan sejumlah kebutuhan teknis hampir selesai. Selama ini mereka menggunakan dara mandiri dalam menyiapkan produksi. Luna mengatakan kelompoknya tidak menyesali proses yang sudah ditempuh.

BACA JUGA:   Konser di Jakarta, The Script Kenang Mark Sheehan di Lagu Ini

Menurut Luna, kontrak kerja sama masih dalam tahap persiapan dan Mirat Kolektif hanya tinggal melengkapi data administrasi, termasuk informasi rekening untuk pencairan dana. Menurutnya, tidak ada sesuatu yang menjadi konsekuensi atas sikap mereka.

 “Konsekuensi karena mundur sebenarnya tidak ada. Nama kami juga sudah tidak ada di website dan kami belum menandatangani kontrak karena dokumennya memang belum masuk ke kami. Dana juga belum cair, jadi secara administratif belum ada ikatan apa pun,” ujar Luna.

Tawuran Di Kelurahan Galur dalam Teater

ArtJog Hormati Keputusan Seniman

Kepala kurator dan Komisaris Utama PT Artjog Matra Nusantara, Bambang Toko Witjaksono menghormati keputusan mundurnya Mirat Kolektif dari panggung pertunjukan Artjog. Bambang menyatakan seniman lainnya selain Mirat Kolektif, belum ada yang mundur. Menurut dia, sejak awal seniman tidak tahu menahu kerja sama Artjog dengan Didit Hediprasetyo Foundation. “Seniman hanya berhubungan dengan kurator. Pendanaan tidak berpengaruh pada kurasi karya,” kata Bambang Toko.

Tim Artjog menyokong biaya produksi karya. Setiap seniman undangan mendapatkan dukungan dana untuk biaya produksi sebesar Rp 5 juta. Untuk mendapatkan dukungan biaya produksi, setiap seniman harus meneken perjanjian bersama. Namun, Bambang Toko tidak merinci secara detail konsekuensi seniman yang mundur dari Artjog “Bila ada yang membatalkan kami bicarakan di internal,” kata dia.

BACA JUGA:   Erick Thohir Ingatkan Kantor FIFA di Jakarta Bukan Lucu-lucuan

Tim Komunikasi Didit Hediprasetyo Foundation (DHF), Boedi Basoeki, mengatakan keterlibatan mereka  itu berangkat dari fokus yayasan pada pengembangan budaya, pendidikan, dan industri kreatif. Dukungan yang diberikan ditujukan untuk membantu penyelenggaraan festival serta mendukung keberlangsungan ekosistem seni dan menghargai kebebasan berkarya.

Kerja sama ini terbentuk atas permintaan dukungan dari penyelenggara ArtJog karena mereka melihat yayasan memiliki kesamaan visi dan perhatian terhadap ekosistem seni dan budaya. “Peran kami terbatas pada dukungan finansial, tanpa menyentuh ranah kuratorial seperti seleksi seniman, narasi pameran, hingga keputusan akhir tampilan karya sepenuhnya menjadi kewenangan tim kurator,” ujar Boedi. Dukungan DHF, kata dia berangkat dari niat untuk mendukung ruang seni dan budaya, tanpa intervensi terhadap arah artistik, kuratorial, maupun independensi ArtJog.

DHF kata dia, percaya bahwa mendukung seni berarti turut menjaga ruang tempat gagasan, kreativitas, bahkan kritik dapat tumbuh. “Kami percaya ekosistem seni yang sehat lahir dari kolaborasi dan semangat gotong-royong yang tetap menghormati batas, peran dan independensi masing-masing pihak,” kata Boedi. 

Septhia Ryanthie berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER