Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan dirgantara SpaceX sukses meluncurkan 29 satelit internet pita lebar (broadband) Starlink baru ke orbit rendah bumi, sekaligus menggenapkan jumlah satelit aktif dalam konstelasi meganya menjadi lebih dari 10.400 unit.
Penambahan armada satelit terbaru ini dirancang untuk memperluas akses internet di wilayah terpencil, memperkuat konektivitas Wi-Fi dalam penerbangan, serta mendukung layanan langsung ke seluler (direct-to-cell) pada sejumlah operator mitra.
Roket Falcon 9 yang membawa konstelasi satelit tersebut lepas landas dari Space Launch Complex 40 di Cape Canaveral Space Force Station, Florida. Pihak SpaceX memverifikasi proses pelepasan armada satelit berkode Group 10-53 tersebut berjalan mulus sekitar satu jam setelah meluncur.
Dilansir dari Space, Sabtu (30/5/2026), keberhasilan misi penempatan unit baru ini memperkokoh dominasi infrastruktur luar angkasa milik Elon Musk.
Data pelacak satelit independen Jonathan McDowell menunjukkan akumulasi satelit aktif konstelasi tersebut kini resmi melewati angka psikologis 10.400 unit, memantapkan cakupan layanan internet globalnya.
Peluncuran berkala ini krusial bagi lini bisnis konstelasi satelit tersebut. Pasalnya, infrastruktur ini menjadi tumpuan utama dalam membuka pintu komunikasi digital bagi populasi di wilayah-wilayah yang minim jaringan kabel konvensional, sekaligus memenuhi permintaan pasar korporasi untuk konektivitas udara dan seluler.
Misi ini sekaligus menandai peluncuran ke-61 bagi roket Falcon 9 sepanjang tahun berjalan 2026, serta menjadi catatan penerbangan ke-644 secara total sejak roket andalan tersebut pertama kali diperkenalkan ke publik pada 2010.
Aksi lepas landas ini terlaksana hanya berselang 12 jam setelah insiden ledakan mengguncang landasan peluncuran lain di Cape Canaveral. Pada malam sebelumnya, roket New Glenn milik pesaingnya, Blue Origin, meledak saat uji coba pembakaran statis (static fire test) di Launch Complex 36 dan menciptakan bola api besar yang terlihat hingga radius 160 kilometer.

