Thursday, April 18, 2024
Google search engine
HomeInternasionalRibuan Dokter di Korsel Resign Massal, Tuntut Apa?

Ribuan Dokter di Korsel Resign Massal, Tuntut Apa?




Jakarta, CNN Indonesia

Ribuan dokter magang di Korea Selatan mengundurkan diri atau resign massal sebagai bentuk protes terhadap pemerintah yang ingin menambah jumlah penerimaan pelajar di sekolah kedokteran.

Di awal pekan, 6.500 dari 13.000 dokter dan dokter magang di rumah sakit Korsel mengundurkan diri secara massal.

Keesokan harinya, lebih dari 1.600 dokter peserta pelatihan di sejumlah rumah sakit Korsel juga berhenti bekerja.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Protes-protes itu menyebabkan penundaan yang signifikan terhadap prosedur bedah dan pengobatan.

BACA JUGA:   Houthi Rekrut Puluhan Ribu Pejuang di Yaman, Mau Dikirim Bantu Gaza?

Wakil Menteri Kesehatan Park Min Soo mengatakan akan melakukan segala cara agar pasien tetap mendapat layanan di tengah aksi protes ini.

“Kami akan melakukan yang terbaik untuk mencegah pasien sakit parah tak menerima perawatan,” ujar Park pada Selasa (20/2), dikutip Al Jazeera.

Pihak berwenang rumah sakit di Korsel tak menerima pengunduran diri tersebut. Namun, sekitar 1.630 staf medis telah pulang ke rumah.

Polisi juga mewanti-wanti akan menangkap pihak-pihak yang menghasut pengunduran diri massal.

Aksi ribuan dokter magang ini muncul setelah pemerintah berencana meningkatkan jumlah penerimaan di sekolah kedokteran sebesar 2.000 pelajar di tahun ajaran 2025.

BACA JUGA:   Tak Takut Veto AS, DK PBB Bakal Voting Resolusi soal Gaza Lagi

Presiden Korsel Yoon Suk Yeol mengatakan pemerintah perlu mempersiapkan perawatan bagi populasi negara yang mengalami penuaan dini.

Korsel merupakan salah satu negara dengan rasio dokter per penduduk terendah di antara negara-negara maju.

Populasi Korsel berjumlah 52 juta jiwa. Pada 2022, mereka memiliki 2,6 dokter per 1.000 orang jauh di bawah rata-rata yakni 3,7 di negara maju.

Para dokter menolak gagasan pemerintah. Mereka beranggapan kenaikan penerimaan pelajar di sekolah kedokteran akan merugikan kualitas layanan.

Sementara itu, Asosiasi Medis Korea menuduh pemerintah menerapkan kebijakan populis jelang pemilihan legislatif pada April.

“Mereka mengatakan perubahan ini akan meningkatkan jumlah pengunjung yang datang ke rumah sakit dan berdampak negatif pada sistem asuransi kesehatan,” demikian menurut mereka.

BACA JUGA:   VIDEO: Gemerlap Natal Nigeria di Tengah Inflasi & Kenaikan Harga BBM

Namun, kelompok pro pemerintah menuding para dokter khawatir reformasi tersebut bisa mengikis gaji dan status sosial mereka.

(isa/dna)





Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER