Saturday, February 21, 2026
Google search engine
HomeHiburanReview Film Yakin Nikah : Dilema Cinta Setiga

Review Film Yakin Nikah : Dilema Cinta Setiga

FILM Yakin Nikah, garapan sutradara Pritagita Arianegara ini diproduksi oleh Adhya Pictures dan dikembangkan Imajinari. Bergenre drama komedi romantis, Yakin Nikah menghadirkan Enzy Storia sebagai Niken, perempuan yang dipaksa memilih antara Arya (Maxime Bouttier), pacar mapannya, atau Gerry (Jourdy Pranata), mantan terindah yang tiba-tiba hadir kembali di tengah tekanan untuk segera menikah.

Pilihan Editor: Comeback Enzy Storia Lewat Film Yakin Nikah

Film Yakin Nikah: Dilema Cinta Segitiga 

Setelah sukses dengan beberapa film bernuansa drama keluarga, Pritagita Arianegara kembali ke layar lebar lewat Yakin Nikah. Dengan genre drama komedi romantis, Yakin Nikah menawarkan kisah yang dekat dengan realitas masyarakat Indonesia. Film ini  ditulis oleh Bene Dion Rajagukguk, sutradara film Ngeri-ngeri Sedap untuk menghadirkan cerita yang renyah dan segar. 

Ceritanya berpusat pada Niken (Enzy Storia), perempuan muda yang tampak memiliki kehidupan sempurna bersama sang kekasih Arya (Maxime Bouttier). Namun, situasi berubah ketika Gerry (Jourdy Pranata), sang mantan muncul kembali. Dilema cinta segitiga ini diperkuat dengan tekanan dari orangtua Niken, membuat film tidak hanya bicara soal percintaan, tetapi juga soal ekspektasi keluarga dan keberanian untuk menentukan pilihan hidup.

BACA JUGA:   Ronaldo Cetak 2 Gol Cantik, Al Nassr Hajar Al Ittihad

Selain tiga pemeran utama, film ini juga menghadirkan aktor-aktor terkenal seperti Tora Sudiro dan Ersa Mayori sebagai orang tua Niken. Keduanya memberi lapisan emosional kuat, sang ayah penuh kasih dan selalu mendukung, sementara sang ibu tampil sebagai figur tegas yang menuntut anaknya segera menikah. Hadir pula Agnes Naomi sebagai sahabat Niken, yang menjadi penyeimbang di tengah konflik keluarga dan percintaan.

Review Film Yakin Nikah

Sejak menit awal, Yakin Nikah langsung memperlihatkan dilema besar yang dialami Niken (Enzy Storia). Karakter ini digambarkan sebagai perempuan yang modern dan independen, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan tuntutan keluarga dan urusan hati. Enzy berhasil memerankan Niken dengan gestur dan ekspresi terasa nyata, tatapan penuh ragu, senyum yang dipaksakan, hingga kepanikan kecil saat rahasianya mulai terungkap. Penonton bisa ikut merasakan kegelisahan yang ia bawa sepanjang film.

Konflik cinta segitiga yang melibatkan Arya (Maxime Bouttier) dan Gerry (Jourdy Pranata) juga terjalin dengan mulus. Arya tampil sebagai pasangan ideal mapan, penuh perhatian, dan tenang. namun sibuk. Sementara Gerry menghadirkan godaan nostalgia yang sulit ditolak, sosok mantan yang masih menyisakan ruang di hati. Chemistry ketiganya terasa natural, tidak berlebihan, dan cukup untuk membuat penonton ikut bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang paling pantas untuk Niken? Meski ada beberapa adegan yang terasa terburu-buru menuju konflik puncak, dinamika hubungan mereka tetap memikat.

BACA JUGA:   BP Batam dan PT Metro Nusantara Bahari Teken MoU Pelabuhan Batam Centre, Mitra Lama Tak Hadir dalam Serah Terima Aset - insightkepri.com

Namun, hal menarik lainnya pada film ini yaitu terletak pada drama keluarga. Tora Sudiro memberikan warna hangat sebagai ayah yang penuh cinta dan tidak menghakimi serta selalu mendengarkan keluh kesah Niken. Ia menjadi jangkar emosional yang menenangkan di tengah kekacauan hidup Niken.

Sebaliknya, Ersa Mayori muncul sebagai ibu yang keras, penuh ekspektasi, dan sering menekan putrinya untuk segera menikah. Peran Ersa membuat penonton ikut merasakan beban psikologis Niken, tetapi seiring waktu, ia juga memperlihatkan sisi lembut seorang ibu yang sesungguhnya hanya ingin yang terbaik bagi anaknya. Kontras dua figur orang tua ini memperkaya film, membuat konflik terasa lebih hidup dan dekat dengan realitas.

BACA JUGA:   Survei Indikator: 71,8% Masyarakat Percaya MK Adil Putuskan Sengketa Pilpres

Sutradara Pritagita Arianegara berhasil menjaga keseimbangan film. Adegan penuh ketegangan keluarga bisa tiba-tiba mencair lewat humor ringan, sementara momen romantis tidak dibiarkan terlalu manis hingga kehilangan relevansi. Pritagita seolah ingin menegaskan bahwa cinta bukan hanya urusan dua orang, melainkan juga soal bagaimana keluarga dan lingkungan memberi pengaruh besar dalam pengambilan keputusan.

Yang membuat Yakin Nikah berbeda adalah keberanian untuk menampilkan tokoh utama yang tidak sepenuhnya “likeable”. Niken kerap membuat keputusan yang dianggap egois, masih berhubungan dengan mantan tanpa jujur pada pasangannya. Penonton mungkin kesal, bahkan lebih simpati pada Arya atau Gerry. Tapi di situlah letak kekuatan film ini. Niken terasa nyata sebagai sosok manusia dengan kelemahan, ketakutan, dan kebingungan. Kita bisa menolak sikapnya, tapi sulit menolak kenyataan bahwa banyak orang pernah berada di posisi serupa, terhimpit ekspektasi keluarga, tekanan sosial, dan rasa takut membuat keputusan yang salah.

Film Yakin Nikah mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 9 Oktober 2025.

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER