FILM KPop Demon Hunters mencatat pencapaian besar sejak tayang di Netflix Juni lalu. Film animasi musikal ini sudah ditonton lebih dari 210 juta kali, menjadikannya salah satu film paling populer di platform tersebut.
Menurut laporan Variety, tiga lagu soundtracknya masuk tangga lagu Billboard Hot 100 dengan “Golden” bahkan menduduki posisi teratas daftar lagu yang paling banyak diputar di Amerika Serikat.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Film ini berkisah tentang sebuah grup idola perempuan yang diam-diam merupakan keturunan pemburu iblis. Di atas panggung mereka tampil sebagai bintang K-pop, sementara di luar panggung mereka diam-diam harus menghadapi makhluk gaib. Tokoh utamanya, Rumi, digambarkan sering merasa tertekan karena harus menyembunyikan sisi lain dari dirinya. Situasi semakin rumit ketika grup mereka harus berhadapan dengan boyband saingan, The Saja Boys, yang ternyata terdiri dari para iblis.
Unsur komedi, aksi, musik, hingga horor ringan diramu dalam satu cerita, menjadikan film ini mudah diikuti sekaligus menghibur. Selain itu, KPop Demon Hunters juga menampilkan sisi personal para tokohnya, mulai dari rasa malu, rahasia yang dipendam, hingga pergulatan untuk bisa menerima diri sendiri.
Dilansir dari laman CNA, film ini turut mendorong tren budaya populer Korea, dari musik hingga makanan seperti gimbap dan ramyeon yang muncul di dalam cerita. Popularitasnya memperlihatkan bagaimana animasi musikal bisa diterima penonton lintas negara.
Kesuksesan film KPop Demon Hunters menunjukkan bahwa animasi musikal kini punya ruang besar di pasar global. Bagi yang menyukai film ini, ada sejumlah film musikal animasi lain yang bisa menjadi pilihan tontonan. Dilansir dari berbagai sumber, berikut empat rekomendasi film animasi musikal yang dapat ditonton.
- Over The Moon (2020)
Dikutip dari Business Insider, Over the Moon (2020) adalah film animasi musikal produksi Netflix yang mengambil inspirasi dari legenda Dewi Bulan, Chang’e. Disutradarai Glen Keane, seorang animator legendaris Disney di balik karakter Ariel, Beast, hingga Tarzan, film ini menjadi debut panjangnya setelah puluhan tahun berkarya. Ia berkolaborasi dengan John Kahrs, pemenang Oscar lewat Paperman. Skenarionya ditulis Audrey Wells yang dikenal dengan karakter perempuan kuat dalam karya-karyanya.
Cerita berpusat pada Fei Fei, remaja yang kehilangan ibunya dan sulit menerima rencana sang ayah untuk menikah lagi. Berbekal kecintaannya pada sains, ia membangun roket untuk membuktikan keberadaan Chang’e, dewi yang kisahnya kerap ia dengar dari ibunya. Perjalanan ke bulan itu bukan hanya petualangan fantastis, tapi juga bagian dari upaya Fei Fei berdamai dengan kehilangan dan membuka diri pada perubahan.
Film ini menampilkan jajaran pengisi suara berdarah Asia, termasuk John Cho, Sandra Oh, Ruthie Ann Miles, dan Phillipa Soo yang memerankan Chang’e. Musiknya digarap oleh Steven Price, pemenang Oscar lewat Gravity, dengan lagu-lagu orisinal yang memperkuat emosi cerita, salah satunya “Rocket to the Moon”. Bukan hanya sekadar animasi anak-anak, Over the Moon dipandang sebagai surat cinta Audrey Wells untuk keluarga, tentang cinta yang bertahan meski telah menghadapi kehilangan.
- Vivo (2021)
Dilansir dari Pop Matters, Vivo (2021) adalah film animasi musikal produksi Sony Pictures Animation yang tayang di Netflix. Karakter utamanya seekor kinkajou bernama Vivo, diisi suaranya oleh Lin-Manuel Miranda yang juga menulis seluruh lagu dalam film ini. Kisahnya berawal di Havana, saat Vivo tampil bersama pemiliknya, Andrés, seorang musisi tua. Hidup mereka berubah ketika Andrés menerima undangan dari Marta Sandoval, penyanyi ternama sekaligus cinta lamanya, untuk tampil di konser perpisahan di Miami.
Tragedi datang sebelum Andrés sempat berangkat. Ia meninggal dunia, meninggalkan sebuah lagu cinta yang tak pernah sempat ia nyanyikan untuk Marta. Vivo kemudian mengambil alih misi itu. Dengan bantuan Gabi, keponakan Andrés yang penuh energi, ia berusaha membawa lagu tersebut melintasi perjalanan panjang menuju Miami. Perjalanan mereka penuh rintangan, dari aturan sosial yang kaku hingga bahaya di alam liar Florida.
Di balik nuansa ceria film anak, Vivo memuat lapisan tema yang lebih dalam. Film ini menyinggung pengalaman kehilangan, migrasi, dan identitas diaspora Kuba, yang terlihat dari perjalanan Vivo antara Havana dan Miami. Musik dengan sentuhan Latin yang mengiringi cerita menambah kesan emosionalnya.
- Belle (2021)
Dinukil dari The Wrap, Belle (2021) karya Mamoru Hosoda membawa kisah klasik Beauty and the Beast ke dunia digital masa kini. Hosoda menggandeng sejumlah talenta internasional, mulai dari Jin Kim, desainer karakter veteran Disney, hingga studio animasi Irlandia Cartoon Saloon yang dikenal lewat Wolfwalkers.
Film ini berkisah tentang Suzu, remaja 17 tahun yang tinggal di pedesaan Jepang dan hidup dalam kesunyian setelah kehilangan ibunya. Identitas dirinya berubah ketika ia masuk ke “U”, sebuah dunia virtual dengan lima miliar pengguna. Di sana, ia menjelma menjadi Belle, penyanyi terkenal dengan jutaan penggemar, sosok yang jauh berbeda dari kesehariannya.
Dalam semesta “U”, Belle bertemu dengan sosok misterius yang dijuluki Naga. Suzu, lewat avatarnya, berusaha menguak identitas sang makhluk, sembari menghadapi tekanan dari warganet yang ingin menyingkirkan Naga dari dunia maya. Perjalanan itu perlahan berubah menjadi pencarian jati diri tentang keberanian, kehilangan, dan arti sebenarnya dari kasih sayang.
- Spellbound (2024)
Dikutip dari Animation World Network, Spellbound adalah film animasi musikal dari Skydance Animation yang tayang di Netflix pada November 2024. Film ini disutradarai Vicky Jenson, sosok di balik Shrek dan Shark Tale. Ceritanya berpusat pada Putri Ellian, remaja 15 tahun yang harus menyelamatkan kerajaan Lumbria setelah sebuah sihir mengubah ayah dan ibunya, sang raja dan ratu, menjadi monster.
Di balik kisah fantasi itu, Spellbound berbicara tentang keluarga yang retak. Ellian berusaha keras menjaga kerajaannya tetap utuh sambil menutupi perubahan yang menimpa orang tuanya. Perjalanan sang putri untuk mematahkan kutukan adalah alegori tentang pengalaman anak menghadapi perceraian, tentang rasa bersalah, ketakutan ditinggalkan, hingga usaha sia-sia untuk “memperbaiki” orang tua mereka.
Jenson mengaku banyak mengambil inspirasi dari pengalaman nyata tim kreatif yang pernah melalui perceraian, dibantu konsultan psikolog anak agar cerita tetap jujur. Hasilnya adalah dongeng baru yang membicarakan persoalan universal, yakni tentang bagaimana anak bisa merasa tetap dicintai meski keluarga berubah. Lewat musik dan animasi, Spellbound memberikan reflektivitas yang relevan tidak hanya bagi anak-anak, tapi juga bagi siapa saja yang pernah merasakan renggangnya hubungan dalam keluarga.