Thursday, January 29, 2026
Google search engine
HomeHiburanPencarian Makna Raga dari Pameran Tunggal Haviez Ammar

Pencarian Makna Raga dari Pameran Tunggal Haviez Ammar

SENIMAN Haviez Ammar menggelar pameran tunggal perdananya di Clove Hotel Bandung mulai 16 Januari – 8 Februari 2026. Bertajuk Awakened Body: Gorejat Raga, seluruh karyanya berupa gambar dari arsiran pensil di atas kanvas. “Gorejat ini adalah suatu getaran kesadaran dari ujung pensil seorang Ammar yang sedang gelisah mencari makna di balik raga,” kata kurator pameran Wildan F. Akbar saat pembukaan pameran, Jumat 16 Januari 2026.

Tubuh dalam diskursus seni rupa seringkali menjadi obyek atau proporsi anatomi. Namun dalam pameran tunggalnya kali ini, Ammar mengajak untuk melihat kembali tubuh-tubuh yang melampaui batas biologis. “Visualnya sangat surealis dan bebas,” ujar Wildan. 

Memahami Makna Raga dari Pameran Tunggal Haviez Ammar

Pada kanvas, Ammar menggambar bagian seperti tangan hingga tubuh secara utuh. Namun begitu dia menghilangkan atau menyamarkan bagian kepala dan wajah yang di antaranya bersosok perempuan. Menurut Wildan, kekaryaan gambar Ammar mendekonstruksi ikonografi dari reog Ponorogo. “Bagaimana dadak merak dan singo barong tidak hadir sebagai bentuk yang utuh tapi sebagai fragmen-fragmen yang menyatu dalam tubuh manusia,” katanya. 

BACA JUGA:   Hasil Super League: Serangan Balik Mematikan, Borneo Libas Persija

Karya lukis pensil di atas kanvas bercorak surealis buatan Haviez Ammar dalam pameran tunggalnya bertajuk “Awakened Body: Gorejat Raga” di Clove Hotel, Bandung, Jawa Barat, 8 Februari 2026. Tempo/Anwar Siswadi

Selain itu pada sebuah gambar disertai pula oleh untaian kaligrafi. Wildan menilai Ammar lewat karya-karyanya sedang mempertanyakan juga soal batas antara naluri kehewanan dan kesadaran spiritual manusia. Tema itu dilatari oleh perjalanan hidup Ammar, kelahiran Jakarta yang sempat bersekolah di Bekasi, lalu menjadi santri di Ponorogo, Jawa Timur. Kini dia bermukim dan meniti karir senimannya di Bandung. “Bisa dibilang tinggalnya pindah-pindah, nomaden,” kata Ammar menjelaskan.

Dia sebelumnya berkarya melukis dengan cat. Sejak 2018 Ammar beralih menggunakan pensil untuk menggambar di atas kanvas. Baginya menggambar atau drawing bukan hanya teknik melainkan juga ruang refleksi pensil dalam memberikan keintiman dan ketelitian ketika digunakan. “Karya di pameran ini sebagai refleksi saya tentang perjalanan hidup manusia,” ujarnya. Pengalamannya selama tinggal di Ponorogo mempengaruhi ide karyanya yang kemudian terpaut dengan reog. 

BACA JUGA:   BP Batam Terima Kunjungan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya Kabupaten Malang - BP Batam

Rencana Setelah Bandung

Rencananya setelah di Bandung, pamerannya akan berlanjut ke Bali. Sebelumnya Ammar beberapa kali mengikuti pameran bersama seperti Pameran Seni Rupa Islami Indonesia 2024 berjudul “Bulan terbit” di Grey Art Gallery Bandung. Kemudian pameran bersama komunitas seni santri di Hotel Aryaduta Bandung pada 2023. Selain itu dia juga mengerjakan pesanan lukisan kaligrafi. 

Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER