Saturday, June 15, 2024
Google search engine
HomeEkonomi BisnisMengenal Istilah Fork dalam Blockchain, Cerminan Demokrasi di Dunia Kripto

Mengenal Istilah Fork dalam Blockchain, Cerminan Demokrasi di Dunia Kripto



Bisnis.com, JAKARTA – Dalam dunia kripto yang tidak memiliki lembaga tersentralisasi seperti bank, perusahaan pengembang (developer), atau entitas moneter sebagai pihak yang memiliki otoritas, pembaruan sistem ditempuh secara demokratis oleh para pengguna, biasanya disebut ‘fork‘.

Lembaga edukasi kripto Pintu Academy menjelaskan bahwa dalam dunia kripto, tujuan utama pembaruan perangkat lunak sebenarnya sama seperti update aplikasi atau perangkat digital pada umumnya, yaitu untuk meningkatkan fitur atau mengatasi masalah keamanan.

Bedanya, proses pembaruan itu tidak dikelola oleh sebuah perusahaan aplikasi atau perangkat digital terkait, melainkan dilakukan secara terbuka oleh komunitas global pengembang karena kripto seperti Bitcoin dan Ethereum pada prinsipnya adalah software open-source.

“Fenomena fork dibagi menjadi dua jenis, hard fork dan soft fork. Hard fork terjadi ketika perubahan yang dilakukan tidak kompatibel dengan versi sebelumnya, menghasilkan dua blockchain yang tidak dapat berkomunikasi satu sama lain,” jelas Tim Pintu Academy dalam keterangannya, Sabtu (27/4/2024).

Sebaliknya, soft fork masih memungkinkan kompatibilitas dengan versi sebelumnya dan tidak menciptakan blockchain baru, memungkinkan transisi yang lebih halus tanpa memecah komunitas pengguna.

BACA JUGA:   5 Fakta Jelang Man City vs Real Madrid di Liga Champions

Sebagai contoh, Bitcoin sempat mengalami fork pada 2017 sehingga menghasilkan Bitcoin Cash. Perbedaan Bitcoin dan Bitcoin Cash adalah peningkatan ukuran blok, di mana Bitcoin hanya 1 MB, sementara Bitcoin Cash mencapai 8 MB. 

Hal itu membuat Bitcoin Cash memiliki kemampuan memproses lebih banyak transaksi dalam satu blok sehingga bisa digunakan sebagai alat pembayaran sehari-hari yang murah dan efisien. 

Pada akhirnya, Bitcoin Cash megakomodasi pengembang yang punya visi agar transaksi lebih masif. Sementara itu, pengembang Bitcoin lawas cenderung punya filosofi mengedepankan kualitas keamanan dan kestabilan jaringan, agar Bitcoin bisa menjadi aset penyimpan nilai yang stabil dan berpotensi memberikan keuntungan jangka panjang.

Hal serupa terjadi pada Ethereum pada 2016, setelah terjadinya serangan decentralized autonomous organization (DAO), sebuah proyek dalam Ethereum yang bertujuan untuk menjaga organisasi tanpa pemilik sentral. Walaupun konsepnya bagus, serangan ini ternyata mengakibatkan kehilangan token Ether pada beberapa pengguna.

BACA JUGA:   Investor Wajib Lapor Pajak Sebelum Tenggat 31 Maret 2024, Begini Caranya!

Untuk mengatasi situasi itu, para pengguna Ethereum melakukan voting untuk memutuskan terjadinya hard fork. Pada akhirnya, hard fork terjadi yang dikenal dengan Fork DAO, token Ether yang hilang dikembalikan, dan semua pengguna pun beralih dari blockchain lama yang akhirnya diberi nama Ethereum Classic.

Ethereum juga memiliki fork terbaru bertajuk Ethereum 2.0 atau Serenity, di mana terjadi peralihan model dari proof-of-work (PoW) menjadi proof-of-stake (PoS). Membuat ekosistem Ethereum lebih cepat dan ramah lingkungan, karena konsumsi daya yang diperlukan para penambang untuk memvalidasi transaksi menjadi lebih efisien.

Prinsip Dasar Fork

Secara prinsip, ketika pengembang ingin mengimplementasikan perubahan pada protokol kripto yang terdesentralisasi, mereka memulai dengan membuat salinan kode program Bitcoin yang ada dan memodifikasinya. 

Hasil modifikasi itu kemudian tersedia untuk diunduh sebagai versi baru, sementara versi lama masih tersedia. Pengguna, termasuk penambang dan node penuh, memiliki pilihan untuk tetap pada versi lama atau beralih ke versi baru. Proses inilah yang disebut dengan awal mula terjadinya ‘fork‘.

BACA JUGA:   Api di Gudang Amunisi Padam, Pangdam Jaya Sebut Petugas Lakukan Pendinginan

Dalam ekosistem Bitcoin, pengembang, penambang, dan node penuh memegang peranan krusial dalam pengambilan keputusan. 

Pengembang berperan dalam pembaharuan kode, penambang mengamankan jaringan melalui proses penambangan, dan node penuh menyimpan sejarah transaksi lengkap. Ketiganya harus mencapai kesepakatan sebelum perubahan dapat diterapkan.

Pintu Academy menjelaskan salah satu keuntungan dari hard fork adalah pengguna yang memiliki kripto pada blockchain asli juga akan memiliki jumlah yang sama di blockchain baru. 

Hal ini sering dilihat sebagai peluang bagi investor untuk mendapatkan keuntungan dari koin gratis yang diterima selama fork

Sebagai contoh, pada tanggal 1 Agustus 2017, ketika Bitcoin mengalami hard fork yang menghasilkan Bitcoin Cash, investor yang memiliki Bitcoin pada saat itu secara otomatis menerima jumlah Bitcoin Cash yang setara, meskipun nilai kedua koin ini bisa sangat berbeda dari waktu ke waktu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google
News
dan WA Channel



Source link

BERITA TERKAIT
spot_img

BERITA POPULER