Saturday, March 21, 2026
Google search engine
HomeEkonomi BisnisIndonesia vs Irak: Kilas Balik Kekalahan Timnas pada Laga 6 Juni 2024

Indonesia vs Irak: Kilas Balik Kekalahan Timnas pada Laga 6 Juni 2024



Bisnis.com, JAKARTA — Duel antara timnas Indonesia dan Irak pada 6 Juni 2024 di Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi salah satu momen paling krusial dalam perjalanan Garuda di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. 

Pertandingan yang berakhir dengan skor 0–2 untuk kemenangan Irak itu bukan sekadar kekalahan, melainkan pelajaran besar tentang efektivitas, disiplin, dan kedewasaan bermain di level Asia.

Apalagi, timnas Indonesia akan kembali menghadapi Irak di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Laga yang akan dihelat di King Abdullah Stadium, Minggu (12/10/2025) pukul 02.30 WIB, itu akan menjadi penentu hidup-mati skuad Garuda untuk lolos ke Piala Dunia 2026.

Berdasarkan catatan Bisnis, pada laga 6 Juni 2024, Indonesia turun dengan formasi 3-4-3, sedangkan Irak tampil dengan pola 4-2-3-1 yang lebih konservatif namun efektif. 

Skuad Garuda menurunkan Ernando Ari di bawah mistar, dengan kombinasi bek tengah Jordi Amat, Rizky Ridho, dan Justin Hubner. 

Gelandang seperti Thom Haye dan Nathan Tjoe-A-On menjadi penggerak transisi serangan, sedangkan Rafael Struick diandalkan sebagai ujung tombak dengan dukungan Marselino Ferdinan dan Ragnar Oratmangoen.

BACA JUGA:   Banjir Terjang 8 Kota-Kabupaten Sulsel, Makassar dan Soppeng Terparah

Di sisi lain, Irak tampil sabar dan memanfaatkan momentum. Gol pertama datang dari Aymen Hussein melalui titik penalti pada menit ke-54 akibat pelanggaran di kotak terlarang. 

Indonesia kemudian kehilangan keseimbangan permainan setelah Jordi Amat mendapat kartu merah. Tertinggal gol dan jumlah pemain, Shin Tae-yong memasukkan Pratama Arhan, Asnawi Mangkualam, dan Ivar Jenner.

Indonesia kembali dihukum penalti setelah Ernando melakukan pelanggaran kepada Ali Jasim pada menit ke-71. Namun, eksekusi penalti Aymen Hussein melambung di atas mistar. 

Pada sisa pertandingan, timnas Indonesia yang bermain dengan 10 pemain berusaha untuk menyamakan kedudukan. Sementara itu, Irak mempertahankan intensitas serangan sedang untuk mempertahankan keunggulan mereka.

Hasilnya, Indonesia justru kebobolan gol kedua pada menit ke-87. Blunder Ernando Ari membuat Ali Jasim menggandakan keunggulan Irak.

Hingga wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan berakhir, Indonesia tak mampu mencetak gol dan harus mengakui keunggulan Irak dengan skor akhir 0-2.

Sepanjang pertandingan yang dipimpin wasit asal Australia, Shaun Evans, itu Indonesia hanya mencatat dua tembakan tepat sasaran, berbanding enam milik Irak. Penguasaan bola timnas Indonesia juga lebih rendah yakni di bawah 45 persen.

BACA JUGA:   Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis (28/12/2023)

Kekalahan itu pun memperpanjang rekor buruk Indonesia terhadap Irak. Berdasarkan catatan Transfermarkt, kedua negara telah bertemu dua kali di Kualifikasi Piala Dunia 2026 dan seluruhnya dimenangkan Irak, dengan agregat skor 7-1 (5-1 di Basra, 0-2 di Jakarta). 

Secara historis, Indonesia juga baru satu kali menang atas Irak di semua ajang sejak 1973, dengan selisih gol minus 21 dalam 12 pertemuan.

Berbeda Sekarang, Indonesia Punya Asa untuk Menang?

Namun situasi jelang pertemuan timnas Indonesia dan Irak kali ini jauh berbeda. Di bawah arahan Patrick Kluivert, Indonesia datang dengan skuad berbeda dan kewajiban untuk menang demi menjaga asa lolos ke putaran final Piala Dunia 2026

Indonesia kali ini datang dengan beberapa pemain kunci baru seperti Jay Idzes, Kevin Diks, Calvin Verdonk hingga Ole Romeny.

Selain itu, kedewasaan mental menjadi modal baru. Setelah melalui rentetan pertandingan berintensitas tinggi di putaran ketiga, para pemain kini lebih terbiasa menghadapi tekanan besar dan lawan dengan kualitas individu tinggi. 

BACA JUGA:   Bakal Menjalani Wamil Tahun Ini, Berikut 6 Drama yang Pernah Dibintangi Cha Eun Woo

Secara teknis, Irak masih di atas kertas unggul dalam hal organisasi permainan dan pengalaman internasional. Namun, Garuda kali ini datang bukan dengan ambisi membalas kekalahan semata, melainkan dengan misi memperpanjang napas di kualifikasi dan menguji konsistensi di bawah sistem pelatih baru.

“Yang terpenting sekarang, kami harus menang. Itu satu-satunya hal yang ada di pikiran kami,” ujar Kluivert sehari jelang laga.

Pelatih asal Belanda itu menilai Irak punya organisasi permainan solid. Namun, dia memastikan tim Garuda telah menyiapkan strategi khusus.

“Kami tahu Irak adalah tim yang sangat bagus. Di pertemuan sebelumnya, kami sempat mendapatkan hasil yang kurang baik, namun kali ini kami berusaha memperbaikinya,” ujarnya.

Jika pada Juni 2024 Indonesia kalah karena kehilangan kontrol di babak kedua, maka pada Oktober 2025 ini seluruh mata publik akan menilai apakah Garuda sudah benar-benar belajar dari luka lama.



Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER