Bisnis.com, JAKARTA— Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) menyatakan gangguan listrik yang terjadi di salah satu pusat data Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab (UAE) tidak berdampak signifikan terhadap layanan di Indonesia.
Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma menjelaskan dampak insiden tersebut relatif terbatas karena AWS telah memiliki regional data center dan availability zones di Indonesia. Namun, gangguan tetap berpotensi dirasakan apabila terdapat beban kerja pelanggan Indonesia yang secara desain ditempatkan atau melakukan failover ke region UEA atau kawasan Teluk.
“Namun apabila ada workload pelanggan Indonesia yang secara desain ditempatkan atau melakukan failover ke region UEA [misalnya: ME-CENTRAL-1] atau kawasan Teluk, maka bisa terjadi gangguan/latensi meningkat/kapasitas failover terbatas selama insiden berlangsung,” kata Hendra saat dihubungi Bisnis, Senin (2/3/2026).
Meski demikian, Hendra menuturkan sebagian besar beban kerja pelanggan Indonesia umumnya berjalan di region terdekat, seperti Asia Pasifik, atau di dalam negeri apabila tersedia.
Menurut Hendra, AWS telah memiliki Region Asia Pacific (Jakarta), sehingga secara arsitektur pelanggan dapat merancang layanan kritikal tetap berjalan di dalam negeri atau menggunakan pendekatan multi-region di Asia, tanpa bergantung pada wilayah UEA.
Dengan demikian, insiden tersebut tidak serta-merta berdampak terhadap seluruh layanan digital di Indonesia. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya penerapan arsitektur multi-availability zone (multi-AZ), multi-region, serta pengujian failover secara berkala.
Hendra menilai insiden tersebut memperkuat pentingnya ketersediaan kapasitas pusat data di dalam negeri sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan digital nasional. Namun, dia menekankan kebijakan penempatan data tidak semata-mata soal lokasi fisik, melainkan juga menyangkut desain ketahanan layanan.
Menurut Hendra, pertimbangan utama dalam penempatan data adalah aspek kedaulatan dan kepatuhan regulasi. Untuk jenis data dan layanan tertentu, khususnya yang berada dalam lingkup publik dan bersifat strategis, Indonesia telah mengatur tata kelola serta perlindungannya melalui berbagai kerangka regulasi, seperti Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSTE), beserta kebijakan turunan dan implementasi sektoral.
“Ditambah lagi kita juga sudah punya UU PDP, walaupun belum ada lembaga khusus yang mengawasi dan menindak,” katanya.
Selain itu, Hendra menambahkan resiliensi geopolitik juga menjadi pertimbangan penting.
Dia menilai insiden di UEA menunjukkan risiko kawasan (regional risk) dapat berdampak langsung terhadap infrastruktur digital. Dalam konteks ini, ketersediaan opsi pemrosesan data di dalam negeri dapat mengurangi ketergantungan terhadap wilayah yang dinilai rawan.
Dari sisi kinerja, Hendra menilai layanan domestik cenderung memiliki stabilitas yang lebih baik serta latensi yang lebih rendah apabila dioperasikan dari dalam negeri, sehingga berdampak positif terhadap pengalaman pengguna.
Namun demikian, bagi perusahaan swasta, Hendra menyebut praktik terbaik secara global adalah penerapan arsitektur hybrid serta multi-cloud atau multi-region yang disesuaikan dengan tingkat kritikalitas layanan, bukan dengan menempatkan seluruh beban kerja di satu lokasi.
“Dengan demikian, penempatan di Indonesia sebaiknya dipahami sebagai fondasi [base load & layanan kritikal], sementara untuk kebutuhan global tetap bisa memakai region lain dengan kontrol risiko yang terukur,” katanya.
Berdasarkan laporan publik AWS, Hendra menjelaskan salah satu Availability Zone di UEA terdampak hantaman benda tak dikenal yang memicu percikan api dan kebakaran, sehingga menyebabkan penghentian pasokan listrik sementara.
Dampak langsung dari insiden tersebut berupa terjadinya gangguan layanan (outage) pada Availability Zone tertentu akibat gangguan daya. Selain itu, terjadi degradasi layanan yang ditandai dengan peningkatan error rate, gangguan konektivitas, serta proses pemulihan yang dilakukan secara bertahap.
Sebagai langkah mitigasi, AWS secara resmi merekomendasikan pelanggan untuk sementara waktu menggunakan region alternatif selama proses investigasi dan pemulihan berlangsung.
“Efek lanjutan bisa berupa review ulang postur keamanan fisik, redundansi daya, rute jaringan, serta pengetatan SOP respons insiden di fasilitas kawasan tersebut,” kata Hendra.
Gangguan ini juga terjadi di tengah kondisi kawasan Timur Tengah yang sedang mengalami eskalasi keamanan, di mana sejumlah bandara internasional dilaporkan sempat menghentikan operasionalnya.
Sebelumnya, AWS, unit komputasi awan milik Amazon, melaporkan terjadinya gangguan listrik di salah satu pusat datanya di UEA setelah fasilitas tersebut terkena hantaman benda tak dikenal yang memicu percikan api dan kebakaran.
Melansir laman NewsBytes, Senin (2/3/2026), insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional menyusul serangan balasan Iran terhadap sejumlah negara di kawasan Teluk, termasuk UEA, setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran.

