AKTOR Chris Pratt membintangi film thriller fiksi ilmiah Mercy produksi Amazon MGM Studios sebagai Chris Raven, seorang detektif Kepolisian Los Angeles (LAPD). Raven ditawan dan dipaksa untuk menghadap hakim AI canggih Maddox (Rebecca Ferguson) untuk membuktikan ketidakbersalahannya dalam kasus pembunuhan istrinya. Raven hanya memiliki waktu 90 menit di kursi eksekusi untuk meyakinkan Maddox atau ia akan menemui ajalnya seketika.
Film Mercy disutradarai oleh Timur Bekmambetov dan tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu, 21 Januari 2026. Film tersebut akan menyuguhkan ketegangan psikologis melalui konsep peradilan berbasis AI.
Berikut beberapa fakta menarik film Mercy, khususnya menyoal Chris Pratt dan perannya di film yang diproduseri oleh Charles Roven tersebut.
Permintaan untuk Diikat di Kursi Eksekusi
Chris Pratt secara khusus meminta kepada Bekmambetov agar dirinya diikat di kursi eksekusi hingga 50 menit setiap kalinya ketika proses syuting. Mungkin memang terdengar tidak nyaman terjebak tanpa alas kaki di kursi eksekusi. Akan tetapi, hal tersebut dilakukan Pratt untuk dapat merasakan “sensasi” langsung dari situasi mencekam sebagai tawanan yang berada di ambang kematian.
“Saya pikir ini akan membantu mendukung penampilan dan perasaan klaustrofobia serta terjebak. Saya berkeringat jadi jika wajah saya gatal, saya tidak bisa menggaruknya dan saya tidak bisa bangun,” tutur Pratt menjelaskan seperti dikutip dari BBC.
Tantangan Baru bagi Chris Pratt
Masih dari laporan yang sama, melakoni peran sebagai detektif melalui karakter Chris Raven merupakan perubahan yang cukup signifikan bagi Pratt. “Saya belum pernah memerankan karakter seperti ini sebelumnya, dalam genre seperti ini,” ujar Pratt. Kendati demikian, ia mengaku bersemangat menjalani perannya tersebut dan menganggapnya sebagai bagian untuk mengembangkan kemampuan keaktorannya.
Selama ini, Pratt memang lebih dikenal sebagai pahlawan aksi yang pandai melucu, seperti tampak pada perannya sebagai Star-Lord dalam Guardians of The Galaxy dan Owen Grady untuk film Jurassic World. “Saya tidak bisa mengandalkan hal yang biasa saya tampilkan dalam peran-peran saya, di mana saya sedikit konyol dan polos. Ini serius,” kata Pratt.
Pandangan Chris Pratt Soal AI
Meskipun Chris Pratt menikmati perannya dalam film Mercy, tetapi hal tersebut tak mengubah pandangannya terkait teknologi AI. Pratt bahkan menegaskan bahwa pengadilan oleh hakim, juri, dan algojo AI bukanlah suatu jalan yang tepat. “Saya percaya pada juri yang terdiri dari orang-orang sebaya dan hak untuk dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah,” ucapnya.
Pratt bahkan mengungkapkan bahwa dirinya berkeinginan untuk melindungi keempat anaknya dari “serangan kegilaan digital” dan dampak yang ditimbulkan oleh waktu menatap layar. “Saya berhati-hati namun optimis tentang teknologi yang terus berkembang ini dan dapat membawa umat manusia maju dengan cara yang luar biasa,” ungkapnya.
Kerja Sama Kedua dengan Timur Bekmambetov
Film Mercy menjadi kerja sama kedua serta ajang reuni bagi Pratt dan Bekmambetov setelah dua dekade lamanya. Laporan Deadline mengungkapkan bahwa pertemuan pertama mereka terjadi ketika debut penyutradaraan Hollywood oleh Bekmambetov dalam film Wanted (2008).
Film Wanted menganut cerita yang berdasarkan buku komik karya Mark Millar. Film tersebut pun sukses masuk jajaran blockbuster dan menghasilkan pendapatan kotor USD 342 juta serta sempat dinominasikan dalam ajang penghargaan Academy Awards.
Sempat Cedera Pergelangan Kaki
Menurut laporan Deadline, Chris Pratt melalui awal yang sulit dalam proses penggarapan film Mercy karena sempat mengalami cedera pergelangan kaki. Melalui akun Instagram, Pratt membagikan unggahan yang memuat foto pergelangan kakinya sedang dikompres es batu.
“Hari ini, pergelangan kaki saya terkena tiang logam. Pasti akan menarik ke depannya,” tulisnya. Pratt mengaku kendati ia memiliki tim pemeran pengganti yang hebat, terkadang ia juga mencoba melakukan beberapa aksi-aksi berbahaya dengan dirinya sendiri ketika syuting di sekitar Los Angeles.

