AKTOR Chicco Jerikho kembali tampil dalam sebuah proyek yang sarat isu sosial. Dalam film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, ia memerankan Jonathan Latumahina, ayah dari David Ozora. Film ini mengambil sudut pandang seorang ayah yang memperjuangkan anaknya di tengah kasus kekerasan yang mengguncang publik, sekaligus menggambarkan dinamika keluarga menghadapi tragedi.
Pilihan Editor: Cerita Chicco Jerikho Ubah Penampilan untuk Film Ozora
Pesan Anti-Bullying
Dalam wawancara bersama Tempo pada Selasa, 25 November 2025, Chicco menegaskan bahwa salah satu tujuan terpenting film ini adalah menyuarakan bahaya bullying yang kini makin mengkhawatirkan. Ia menyebutkan bahwa kasus-kasus bullying di Indonesia semakin “menjadi-jadi”, bahkan hingga menimbulkan korban jiwa. “Bullying ini bukan hanya bisa nyerang fisik tapi juga psikis. Bahaya pada si korban dan juga pada keluarga si korban,” ujar Chicco.
Sebagai seorang ayah, Chicco mengaku punya ketakutan pribadi terkait isu itu—khawatir suatu saat anaknya mengalami nasib serupa. Melalui film Ozora, ia berharap penonton menjadikannya bahan refleksi, terutama tentang bagaimana bullying dapat menjadi “penyakit sosial” jika tidak dilawan secara serius.
Mengajak Korban untuk Berani Speak Up
Selain bahaya bullying, Chicco menyoroti pentingnya keberanian untuk bersuara. Ia menekankan bahwa selama seseorang berada di posisi benar dan memiliki support system yang kuat, maka tidak ada alasan untuk takut melawan ketidakadilan.
“Jangan pernah takut untuk melawan. Walaupun lawan kita punya power, jangan mau dibungkam ketika kita punya kebenaran,” katanya. Pesan ini mencerminkan perjuangan karakter Jonathan yang digambarkan tetap teguh menghadapi pihak-pihak berkuasa, serta memperjuangkan hak dan martabat anaknya.
Harapan sebagai Pegangan
Chicco juga menyinggung elemen harapan yang menurutnya sangat penting dalam cerita. Ia menyebut bahwa sekecil apa pun harapan, ketika dibarengi keikhlasan dan keyakinan, hal tersebut dapat menjadi kekuatan untuk bertahan. “Sekecil apa pun harapan itu, ketika kita masih punya keyakinan dan percaya sama yang di atas, itu pasti akan terjadi,” ungkapnya.
Unsur ini menjadi salah satu fondasi emosional film Ozora, menggambarkan bagaimana keluarga korban berusaha tetap tegar meski berada di tengah tekanan besar.
Dua Wajah Kepemimpinan dan Pengasuhan
Film ini juga menampilkan dua profil ayah yang sangat kontras. Chicco menjelaskan bahwa penonton akan melihat perbedaan yang tajam antara sosok ayah yang memberikan segala sesuatu tanpa batas, dan ayah yang memberi dengan konsekuensi serta nilai. Perbandingan ini menjadi komentar sosial tersendiri mengenai pengasuhan dan bagaimana nilai yang ditanamkan orang tua dapat membentuk karakter anak.
Ketika ditanya apakah ia sempat merasa terancam karena memerankan tokoh ayah dalam kasus yang sensitif dan melibatkan pihak berpengaruh, Chicco menjawab dengan tenang. Ia menyebut bahwa banyak orang telah menyuarakan kasus ini, dan ia hanya menjalankan tugas sebagai aktor. “Aku di sini sebagai aktor. Aku sebagai Jonathan dan tidak dilebih-lebihkan,” ujar Chicco. Menurutnya, selama cerita disampaikan apa adanya dan tidak dimanipulasi, tidak ada alasan untuk takut.
Ozora menjadi film yang bukan hanya menampilkan drama keluarga, tetapi juga sebuah pesan keras terhadap fenomena bullying dan penyalahgunaan kekuasaan. Lewat perannya, Chicco Jerikho berharap film ini dapat membuka mata banyak pihak dan mendorong keberanian untuk bersuara demi kebenaran.

