AJANG penghargaan musik tertinggi dunia, Grammy Awards ke-68, sukses digelar pada Ahad, 1 Februari 2026, bertempat di Crypto.com Arena, Los Angeles. Namun, di tengah gemerlap lampu kristal dan deretan piala emas, nama Sabrina Carpenter justru mencuat sebagai pusat kontroversi etika yang memicu perdebatan global.
Sebagai salah satu bintang tamu utama yang paling dinanti, Sabrina awalnya mendulang pujian atas penampilannya di karpet merah. Dilansir dari People, pelantun lagu “Espresso” ini tampil dengan balutan gaun berkilau bertema Old Hollywood, sebuah pilihan mode yang disebut sebagai “salah satu momen paling ikonik malam itu”.
Suasana penuh pujian tersebut berubah menjadi ketegangan sesaat setelah Sabrina naik ke atas panggung untuk melakukan pertunjukan pembuka. Dengan mengusung tema teatrikal bandara yang futuristik, ia membawakan lagu hits terbarunya yang berjudul “Manchild“.
Menjelang akhir lagu, Sabrina melakukan aksi yang tak terduga ia mengeluarkan seekor burung merpati putih hidup dan menggenggamnya di telapak tangan saat sebuah platform mengangkatnya tinggi ke udara. Melansir laporan dari Entertainment Weekly, aksi yang dimaksudkan untuk memberikan kesan artistik dan megah tersebut justru langsung berubah menjadi bumerang ketika para aktivis hak asasi hewan menyadari adanya penggunaan makhluk hidup dalam lingkungan panggung yang ekstrem.
Kritikan Pedas dan Kecaman PETA
Organisasi PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) segera merilis pernyataan resmi tak lama setelah siaran langsung berakhir. Dengan menggunakan pendekatan yang unik namun tajam, PETA menyindir Sabrina menggunakan lirik lagunya sendiri. “Penggunaan hewan hidup sebagai alat peraga panggung adalah tindakan yang bodoh, lambat, tidak berguna dan kejam,” ungkap mereka.
PETA menjelaskan bahwa burung merpati adalah makhluk yang sangat sensitif terhadap stres. Berada di bawah lampu panggung yang menyilaukan dan dentuman bass musik yang menggelegar dianggap sebagai bentuk eksploitasi yang tidak perlu demi kebutuhan estetika visual semata.
Gelombang kritik tidak berhenti sampai di situ. PETA semakin memperkeras nada bicaranya dengan menyoroti kedewasaan sang artis dalam mengambil keputusan kreatif. Dalam pernyataan resminya juru bicara organisasi tersebut menyebut bahwa Sabrina memberikan contoh buruk di industri hiburan tahun 2026.
“Perilakunya kekanak-kanakan burung merpati seharusnya terbang bebas di langit, bukan terjebak dalam genggaman manusia di tengah kerumunan yang bising. Tinggalkan hewan dari panggung Grammy,” tulis PETA dalam laporan tersebut.
Insiden yang terjadi pada malam itu kini menyisakan diskusi panjang mengenai batasan seni di masa depan. Meskipun secara musikalitas penampilan Sabrina dinilai sukses dan ia berhasil membawa pulang penghargaan besar, bayang-bayang kritik etika ini tetap menghantuinya. Hingga hari ini pihak manajemen Sabrina Carpenter maupun penyelenggara Recording Academy belum memberikan pernyataan resmi sebagai tanggapan atas kecaman tersebut.
Pilihan Editor: Air Mata Sabrina Carpenter di Balik Video Musik Manchild

