Sunday, February 22, 2026
Google search engine
HomeInternasionalStudi Bongkar Fakta Mengejutkan soal Resesi Seks di Jepang

Studi Bongkar Fakta Mengejutkan soal Resesi Seks di Jepang




Jakarta, CNN Indonesia

Survei di Jepang membongkar fakta mengejutkan terkait resesi seks di negara tersebut.

Studi itu mengungkapkan banyak pasangan yang menikah di Negeri Sakura enggan melakukan hubungan seksual.

Fenomena tersebut menggambarkan resesi seks di Jepang kian nyata.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei dari Raison d’Etre menunjukkan 43,9 persen responden menikah tetapi jarang melakukan hubungan seksual. Sebanyak 24,3 persen pasangan menikah hampir tidak pernah berhubungan seksual.

“Dengan demikian total 68,2 responden melakukan sedikit atau bahkan tak melakukan hubungan seksual sama sekali,” demikian survei lembaga itu dikutip Nippon, Sabtu (24/1).

BACA JUGA:   Turki Tangkap 34 Mata-mata Israel yang Incar Warga Palestina dan Hamas

Survei tersebut dilakukan terhadap 4.000 orang yang menikah. Usia mereka sekitar 20-an hingga 40-an, dengan masing-masing kelompok usia 500 responden.

Berdasarkan usia dan gender, 51 persen perempuan yang menikah dengan usia 20-an tak berminat berhubungan seksual atau hampir tak ingin berhubungan seksual.

Lalu perempuan yang menikah di usia 30-an, tercatat 67,8 persen mengalami fenomena serupa.

Survei itu juga menghasilkan 39,2 persen terhadap perempuan menikah dengan usia 30-an yang sama sekali tak berhubungan seksual.

Sementara itu, di kalangan laki-laki menikah dengan usia 20-an sebanyak 53,4 persen jarang berhubungan seksual, dan di usia 30-an tercacat 71,4 persen.

BACA JUGA:   Komentar Menohok dari PM Malaysia Anwar soal Miftah Hina Penjual Es

Survei juga menemukan laki laki di kelompok usia 30-an yang sudah menikah dan tak melakukan hubungan seksual sebanyak 41,8 persen.

Jepang tengah mengalami ‘resesi seks’ karena angka pernikahan dan kelahiran yang menurun.

Pada 2022, Jepang mencatat angka kelahiran kurang dari 800.000. Jumlah ini menjadi yang terendah sejak pencatatan kelahiran dimulai.

Pemerintah Jepang bahkan mengucurkan US$25 miliar atau Rp370 triliun untuk mengatasi penurunan angka kelahiran.

Uang itu akan berbentuk subsidi mencakup biaya pendidikan, perawatan prenatal hingga cuti ayah.

Jepang di sisi lain memiliki populasi lansia kedua di dunia.

(isa/bac)

[Gambas:Video CNN]

BACA JUGA:   Israel Rebut Lebih Banyak Wilayah Gaza jika Hamas Tak Bebaskan Sandera





Source link

BERITA TERKAIT

BERITA POPULER