Bisnis.com, SURABAYA – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melahirkan alat pendeteksi penyakit Tuberkulosis (TBC).
Inovasi tersebut memungkinkan penyakit TBC dapat terdeteksi lewat sistem skrining hanya dengan suara batuk.
Alat tersebut dirancang oleh mahasiswa program studi Teknologi Kedokteran ITS Surabaya, di antaranya Nikolas Stanislaus Sanjaya, Faisal Azmi Sirajudin, Miskiyah, M. Rizki Dwi Kurnia Putra, dan Nathania Cahya Romadhona yang menjadi ketua tim TBCare.
Nathania menjelaskan, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapinya bersama teman-teman satu timnya saat merancang alat skrining tersebut, seperti pengolahan terhadap suara batuk karena suara batuk memiliki sifat inharmonik yang mempunyai pola spektral tidak beraturan.
Sementara, tantangan lainnya adalah berkaitan dengan deteksi kecerdasan buatan, yang saat ini dikembangkan masih berfokus pada model deteksi batuk dengan fitur akustik, seperti Mel-Frequency Cepstral Coefficients (MFCC).
“Diperlukan pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas sinyal batuk secara lebih komprehensif,” ungkap Nathania, Selasa (13/1/2026).
Oleh sebab itu, dirinya mengungkapkan bahwa timnya saat ini masih memanfaatkan metode deep learning untuk mencari karakteristik akustik pada suara batuk pasien TBC. Selanjutnya, data yang didapat kemudian diolah dengan Yet Another Mel Spectrogram Network (YAMNet) guna memvalidasi suara batuk yang beragam jenis.
“Model ini memiliki akurasi dan performa yang unggul dalam klasifikasi dan validasi suara batuk dalam berbagai kondisi lingkungan,” bebernya.
Lebih lanjut, Nathania dkk juga melakukan sejumlah modifikasi pada arsitektur deep learning, dengan ekstraksi fitur menggunakan MFCC lalu diproses sebagai input untuk model Long Short-Term Memory (LSTM).
“Modifikasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh tingkat akurasi yang lebih optimal dalam membedakan batuk TBC dan non-TBC,” tambahnya.
Rekaman suara batuk yang didapat kemudian terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT), yang dapat terhubung dengan basis data rumah sakit. Nathania menyebut, proses pengiriman dan pengelolaan data medis dapat dilakukan secara efisien dan berkelanjutan.
“Perangkat ini memiliki kemampuan pra-skrining TB portable yang mudah dioperasikan oleh kader kesehatan di berbagai daerah,” jelasnya.
Dirinya menyatakan, inovasi yang telah dikembangkan tersebut telah lolos uji validasi medis dan berhasil menghasilkan tingkat klasifikasi batuk tuberkulosis dengan sensitivitas hingga mencapai 76%.
Inovasi tersebut pun berhasil menghasilkan medali emas dalam Pekan Ilmiah Nasional Mahasiswa (Pimnas) 2025 bidang Program Kreativitas Mahasiswa kategori Karsa Cipta (PKM-KC). Karya tersebut juga mendukung pencapaian tujuan ke-3, ke-9 dan ke-10 Sustainable Development Goals (SDGs).

