Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah ritme hidup urban yang serba cepat dan penuh tekanan, kebutuhan akan ruang jeda menjadi lebih terasa. Fenomena ini mendorong tumbuhnya tren healing dan wellness tourism, terutama pasca pandemi.
Pullman Ciawi Vimala Hills menangkap perubahan perilaku tersebut dengan menghadirkan pengalaman wellness yang menyeluruh dan terintegrasi bagi para tamu yang menginap di hotel tersebut.
Feby Dilliawan, Director of Marketing Pullman Ciawi mengatakan, konsep healing wellness tourism di Pullman Ciawi ini berangkat dari filosofi slow living yang belakangan menjadi tren di kalangan masyarakat urban.
“Kami menghadirkan ruang bagi tamu untuk memperlambat langkah, hadir sepenuhnya di momen, dan kembali terhubung dengan diri sendiri serta alam,” ujarnya.
Healing tidak diposisikan sebagai aktivitas terpisah, melainkan mengalir secara alami melalui lanskap hijau Vimala Hills, udara pegunungan yang bersih, hingga desain ruang yang memberi rasa lapang dan tenang.
“Kami menawarkan keseimbangan antara ketenangan alam dan karakter Pullman sebagai premium lifestyle brand, sehingga konsep wellness terasa lebih modern, relevan, dan tidak mengintimidasi,” tuturnya.
Diakui olehnya, pascapandemi minat wisata berbasis pemulihan mental kian meningkat. Wisatawan tidak lagi sekedar mencari destinasi liburan, tetapi pengalaman yang memberi kualitas istirahat dan hidup yang lebih seimbang.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Pullman Ciawi memposisikan diri sebagai destinasi yang memungkinkan tamu melepaskan diri dari tekanan digital, pekerjaan, dan rutinitas harian, tanpa harus melakukan perjalanan jauh dari Jakarta.
“Para tamu ingin mencari penginapan yang memungkinkan mereka berhenti sejenak, bernapas lebih dalam, dan pulang dengan kondisi mental yang lebih stabil dan segar,” tuturnya.
Pullman Ciawi pun menghadirkan berbagai elemen wellness yang dirancang untuk mengurangi stimulasi berlebih. Spa dan perawatan tubuh menjadi fasilitas yang paling diminati.
Meski demikian, tidak sedikit tamu yang justru menemukan healing melalui pengalaman sederhana seperti berjalan santai di area hijau, berenang dengan latar pegunungan, menikmati udara pagi tanpa agenda, atau menyantap hidangan secara lebih pelan dan mindful.
“Dalam banyak kasus, healing justru hadir ketika tamu diberi ruang untuk melambat dan memulihkan energi secara utuh, tanpa tekanan aktivitas,” ujar Feby.
Adapun segmen utama wisatawan wellness di Pullman Ciawi berasal dari profesional urban, pasangan, dan keluarga muda Jabodetabek. Mereka hidup dalam ritme cepat dan membutuhkan transisi instan dari suasana kota menuju ketenangan alam. Tren short escape berdurasi satu hingga dua malam pun menjadi pendorong kuat permintaan layanan wellness.
“Konsep slow living tidak selalu membutuhkan waktu lama. Bahkan dalam satu atau dua malam, tamu sudah bisa merasakan perubahan signifikan dalam ritme hidup mereka,” kata Feby .
Dari sisi bisnis, layanan wellness berkontribusi strategis terhadap kinerja Pullman Ciawi. Selain mendorong pendapatan dari spa, F&B, dan experiential stay, konsep healing memperkuat positioning hotel dan menciptakan keterikatan emosional dengan tamu.
Wisatawan yang datang untuk tujuan wellness cenderung memiliki tingkat kepuasan lebih tinggi, durasi tinggal yang optimal, serta kecenderungan untuk kembali.
Feby sendiri melihat prospek wellness tourism di Indonesia sangat kuat dan berkelanjutan, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental dan gaya hidup seimbang.
Ke depan, strategi yang disiapkan mencakup penguatan kurasi pengalaman wellness yang relevan dengan gaya hidup modern, serta integrasi konsep healing ke dalam leisure, corporate retreat, hingga MICE .
Meski demikian, tantangan tetap ada. Menurut Feby, menjaga konsistensi kualitas pengalaman, keberlanjutan lingkungan, dan keberlangsungan bisnis menjadi pekerjaan utama. “Wellness menuntut keaslian dan kedalaman, bukan sekadar tren sesaat. Karena dalam wellness, less is often more,” ujarnya.

